Senin, 17 Agustus 2015

Google Doodle Hari Ini "Melecehkan" Lambang Negara R.I?

Sebenarnya pendapat ini bisa kita tanggapi sendiri, ini melecehkan atau tidak ,. kembali agi kepada kita. Berikut ulasan nya.

Kalau anda melihat Logo Google hari ini, anda mungkin akan berbangga karena Google turut memeriahkan perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 68, yang jauh pada hari ini, 17 Agustus 2013. Namun khusus untuk kali ini, saya menilainya berbeda, tidak berlebihan jika saya cukup "menyesal" dan "kecewa" ketika melihat desain kreatifitasGoogle pada hari ini.

Biasanya untuk memperingati hari besar nasional maupun internasional, termasuk hari ulang tahun para tokoh dunia, khususnya para penemu yang telah berjasa bagi perkembanganm ilmu dan pengetahuan manusia. Google melalui desain kreatifitasnya yang dikenal dengan Google Doodle, merubah tampilan logo utamanya

Walau secara harafiah doodle dapat diartikan sebagai kegiatan mencorat-coret atau menggambar tanpa tujuan (verb: to scribble or draw aimlessly) atau bentuk, gambar, dll, yang dibuat tanpa tujuan (noun:shape, picture, etc., drawn aimlessly), namun dalam kenyataanya Goole Doodle mengandung makna yang dalam untuk menghormati berbagai negara dan tokoh-tokoh besar dunia lainnya.

Saya sejak lama memang senang mengamati Googel Doodle, disamping mengaggumi seni kreatifitasnya, saya "tergoda" untuk mempelajari banyak hal terutama sejarah para tokoh dunia di balik Doodle yang biasanya tampil dengan desain yang menarik. Sejak 16 Juni 2011, saya mulai mengulas Doodle di kompasiana, diawali dengan tulisan yang berjudul Dibalik Pembuatan Google Doodle (Empat Doodle untuk Indonesia). Walaupun tidak semua Doodle saya ulas, namun secara umum saya memang menganggumi ide kreatifitas dua bersaudara, Larry dan Sergey.

Silahkan saja anda amati Google Doodle hari ini, hurup "O" kedua dari Google, diganti dengan gambar burung, yang kepalanya menoleh ke sebelah kanan. Kalau anda menyebut gambar tersebut mewakili seekor burung biasa, boleh saja, namun karena kehadiran Doodle hari ini bertujuan untuk memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Maka kuat dugaan bahwa gambar burung yang dimaksud adalah lambang negara kita, "Garuda Pancasila".

Pita yang biasanya dicengkeram oleh "Garuda" tersebut didisain menjadi panjang hingga melalui beberapa hurup di samping kanan dan kirinya. Entah maksudnya apa, namun mungkin sengaja didisain sedemikian rupa agar dapat mempertegas bentuk hurup "G" dan "e" yang diwarnai merah dan putih, berikut hurup "o" pertama, "g" kedua.

Ah ini disain biasa? Boleh saja jika anda menilai seperti itu, saya mungkin terlalu "lebay" atau terlalu sensi dan bertingkah seolah-olah bak "patriot" kesiangan. Namun bila anda mau melihat lebih jauh tentang Google Doodle lainya yang sengaja dibuat oleh Google untuk memperingati hari kemerdekaan beberap negara di dunia, khususnya desain Doodle yang mengikut sertakan atau menampilkan lambang negara (yang terhormat) dari negara-negara terkait.

Bila anda melihat beberapa Doodle dibawah ini, anda dapat melihat dengan jelas bahwa Google cukup menghormati negara-negara terkait dengan menghadirkan lambang negaranya secara utuh atau nyaris sama untuk ditempatkan dalam desain Doodle. Bandingkan juga denganDoodle hari ini dan silahkan simpulkan sendiri, seperti bulu pada sayap, bukannya 17 helai bulu pada masing-masing sayap tetapi hanya 9, begitu juga bulu pad aekor, bukannya 8 helai tetapi hanya 6.



Ya! Memang benar, pada 15 Januari 2013, Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan bahwa masyarakat boleh menggunakan lambang Garuda Pancasila dalam berbagai bentuk dan kegiatan selama hal itu merupakan bentuk ekspresi kecintaan terhadap negara, seperti yang diberitakan Merdeka.com pada 16/01/2013, dan juga banyak berita online lainnya.

Putusan MK itu "mengabulkan sebagian" dari permohonan pengujian Pasal 57 khususnya huruf d Undang-undang (UU) Nomor Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, dan Lambang Negara serta Lagu kebangsaan. Pasal 57 huruf d berbunyi: "Setiap orang dilarang menggunakan Lambang Negara untuk keperluan selain yang diatur dalam undang-undang ini".

Tentu saja yang dimaksud MK lambang Garuda Pancasila yang dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai kesempatan tentu Garuda Pancasila yang sesuai, tidak di "preteli" sesuka hati atas nama kecintaan terhadap negara.

Ok lah, gugatan lambang Garuda di kaos Timnas Sepak Bola memang tidak dapat diterima (ditolak) oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Juni 2011, bahkan penggugat dihukum untuk membayar denda. Hal ini ternyata relevan dengan putusan MK tersebut, dan memang tidak menjadi masalah, karena Timnas tentu saja membawa nama negara.

Namun bagaimana dengan kasus PT Sumi Indo Wiring System (SIWS) Purwakarta, Jawa Barat yang membuat stempel kepanitiaan menggunakan gambar yang menyerupai lambang negara Burung Garuda pada akhir Desember 2010. Seperti diberitakan Merdeka (16/01/2013), pada tanggal 3 Oktober 2011, majelis hakim Pengadilan Negeri Purwakarta memutuskan kedua terdakwa dinyatakan bersalah dan menghukum 1 bulan penjara dan 3 bulan hukuman percobaan, walau putusan tersebut tidak perlu dijalankan asalkan kedua terdakwa tidak melakukan tindak pidana apapun selama 3 bulan.

Kalau dua kasus di atas terkait dengan warga Negara Indonesia, bagaimana dengan warga Negara asing? Masih ingat Kaos Armani Exchange bergambar Garuda Pada Januari 2010? Ternyata banyak orang protes karena mengangap hal tersebut sebagu bentuk pelecehan lambang negara dan tidak menghormati perjuangan para pendiri bangsa Indonesia.

Tapi ternyata tidak semua orang protes, ada juga yang mendukung dan bahkan bangga, karena lambang negara Indonesia menjadi inspirasi bagi seorang desainer kenamaan asal Italia.

Walau para pendukung yang bangga terhadap kaos Armani, ternyata pada akhirnya pihak Armani melalui situsnya meminta maaf atas penggunaan gambar yang menyerupai burung Garuda Pancasila.

"Masalah ini menjadi perhatian kami dan barang tersebut sudah ditarik dari website kami. Kami meminta maaf kalau ada pihak-pihak yang tersinggung akibat hal tersebut," tulis pernyataan tersebut. Kasus ini kemudian tidak berlanjut ke ranah hukum. Lebih lanjut menurut merdeka.com

Lalu bagaimana menurut anda dengan Google Doodle hari ini? Pasti banyak yang memiliki pendapat yang berbeda. Namun tidak berlebihan, walau dianggap "lebay", pagi ini saya telah mengirimkan email keberatan kepada Google.inc melalui Head Public Policy and Government Relation. PT Google Indonesia, Setral Senayan II Lt 16. Jalan Asia Afrika No.8 Jakarta 10270

Seandainya saja Google ikutmerayakan kemerdekaan R.I pada hari ini, disajikan melalui desain Doodle yang "apik" seperti 4 sebelumnya.

Gerakan Nasional “Ayo Kerja” Pada 70 Tahun Indonesia Merdeka


SIARAN PERS 70 TAHUN INDONESIA
Indonesia kini berusia Tujuh Puluh tahun merdeka. Ini momentum jembatan emas dalam mewujudkan semua harapan berbangsa dan bernegara, yakni: memiliki Indonesia yang “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Harapan itu hanya bisa dicapai dengan kerja. Hanya melalui kerja sebuah bangsa akan meraih kemakmuran dan kejayaannya. Kerja disini haruslah dengan keinsyafan akan kekuatan dari Persatuan Indonesia. Kerja yang dilakukan dengan gotong royong. Ini bukan semata urusan rakyat, tapi para pemimpin-pun harus memberi contoh bergotong royong dalam kerja.

Gotong-royong dalam kerja menjadi jiwa gerakan perayaan 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Melalui Gerakan Nasional 70 Tahun Indonesia Merdeka, yang dicanangkan tepat di Nol Kilometer Indonesia di Kota Sabang ini, Presiden Joko Widodo bertekad menjadikannya sebagai titik tolak mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia dengan gotong royong.

Presiden Joko Widodo ingin menggunakan momentum perayaan 70 tahun Indonesia merdeka untuk memperbarui tekad dalam mewujudkan harapan seluruh rakyat Indonesia. Harapan dari segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Dengan keinsyafan itulah, dari Nol Kilometer Indonesia ini Presiden Joko Widodo

menyerukan: Ayo Kerja! Ayo Kerja! Ayo Kerja! Presiden Joko Widodo mengajak

kerja bersama-sama untuk membuat harapan rakyat itu bisa terwujud. Gerakan

“Ayo Kerja” ini merupakan satu langkah besar mewujudkan impian Indonesia

Merdeka dalam arti sesungguhnya.

Ayo kerja bukanlah slogan semata melainkan sebuah pergerakan. Presiden Joko Widodo memiliki keyakinan pergerakan yang ingin dibangun adalah menjebol mentalitas bangsa yang berada dalam keterjajahan, ketertindasan, ketidakadilan, ketidak merdekaan serta membangun mentalitas baru sebagai bangsa yang merdeka 100 persen. Itulah makna mendasar dari revolusi mental.

Ayo Kerja! Sesungguhnya adalah perwujudan praktis dari gerakan revolusi

Mental. Targetnya bukan semata untuk rakyat namun harus menjangkau dan mengikat para penyelenggara negara. Mereka memiliki tanggung jawab moral maupun konstitusional untuk bekerja jujur, tanpa pamrih, melayani rakyat secara paripurna.

Gerakan Nasional “Ayo Kerja” tidak ingin berhenti pada slogan ataupun perayaan semata, tapi gerakan nyata yang membangkitkan semangat rakyat dalam mewujudkan impian Indonesia Merdeka. Gerakan ini mendorong partisipasi masyarakat untuk terlibat, turun tangan secara bersama-sama mewujudkan impiannya.

Dalam pencanangan, Presiden Joko Widodo menyaksikan pembacaan impian Indonesia 70 Tahun ke depan dari salah seorang perwakilan anak bangsa diujung paling barat Indonesia. Penulisan impian anak bangsa itu akan disimpan secara rapi dalam “Kapsul Waktu”.

Membayangkan Indonesia 70 Tahun ke depan di harapkan bergulir di seluruh pelosok Indonesia: mulai dari desa-desa di pedalaman, kampung-kampung pesisir sampai dengan di kota-kota. Impian seluruh rakyat Indonesia dari 34 Provinsi akan disimpan dalam “Kapsul Waktu” yang rencananya perjalanannya berakhir di Provinsi Papua, tepatnya di ujung timur Indonesia, Merauke.

Informasi lebih lanjut mengenai pelaksanaan perayaan ulang tahun kemerdekaan RI ke 70 dapat melalui www.setneg.go.id (Tim PKP/twitter : @GPRindonesia atau @bakohumas)

Indonesia kini berusia Tujuh Puluh tahun merdeka. Ini momentum jembatan emas dalam mewujudkan semua harapan berbangsa dan bernegara, yakni: memiliki Indonesia yang “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Harapan itu hanya bisa dicapai dengan kerja. Hanya melalui kerja sebuah bangsa akan meraih kemakmuran dan kejayaannya. Kerja disini haruslah dengan keinsyafan akan kekuatan dari Persatuan Indonesia. Kerja yang dilakukan dengan gotong royong. Ini bukan semata urusan rakyat, tapi para pemimpin-pun harus memberi contoh bergotong royong dalam kerja.

Gotong-royong dalam kerja menjadi jiwa gerakan perayaan 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Melalui Gerakan Nasional 70 Tahun Indonesia Merdeka, yang dicanangkantepat di Nol Kilometer Indonesia di Kota Sabang ini, Presiden Joko Widodo bertekadmenjadikannya sebagai titik tolak mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesiadengan gotong royong.

Presiden Joko Widodo ingin menggunakan momentumperayaan 70 tahun Indonesia merdeka untuk memperbarui tekad dalammewujudkan harapan seluruh rakyat Indonesia. Harapan dari segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Dengan keinsyafan itulah, dari Nol Kilometer Indonesia ini Presiden Joko Widodo

menyerukan: Ayo Kerja! Ayo Kerja! Ayo Kerja! Presiden Joko Widodo mengajak

kerja bersama-sama untuk membuat harapan rakyat itu bisa terwujud. Gerakan

“Ayo Kerja” ini merupakan satu langkah besar mewujudkan impian Indonesia

Merdeka dalam arti sesungguhnya.

Ayo kerja bukanlah slogan semata melainkan sebuah pergerakan. Presiden Joko

Widodo memiliki keyakinan pergerakan yang ingin dibangun adalah menjebol mentalitas bangsa yang berada dalam keterjajahan, ketertindasan, ketidakadilan, ketidak merdekaan serta membangun mentalitas baru sebagai bangsa yang merdeka 100 persen. Itulah makna mendasar dari revolusi mental.

Ayo Kerja! Sesungguhnya adalah perwujudan praktis dari gerakan revolusi

Mental. Targetnya bukan semata untuk rakyat namun harus menjangkau dan mengikat para penyelenggara negara. Mereka memiliki tanggung jawab moral maupun konstitusional untuk bekerja jujur, tanpa pamrih, melayani rakyat secara paripurna.

Gerakan Nasional “Ayo Kerja” tidak ingin berhenti pada slogan ataupun perayaan semata, tapi gerakan nyata yang membangkitkan semangat rakyat dalam mewujudkan impian Indonesia Merdeka. Gerakan ini mendorong partisipasi masyarakat untuk terlibat, turun tangan secara bersama-sama mewujudkan impiannya.

Dalam pencanangan, Presiden Joko Widodo menyaksikan pembacaan impian Indonesia 70 Tahun ke depan dari salah seorang perwakilan anak bangsa diujung paling barat Indonesia. Penulisan impian anak bangsa itu akan disimpan secara rapi dalam “Kapsul Waktu”.

Membayangkan Indonesia 70 Tahun ke depan di harapkan bergulir di seluruh pelosok Indonesia: mulai dari desa-desa di pedalaman, kampung-kampung pesisir sampai dengan di kota-kota. Impian seluruh rakyat Indonesia dari 34 Provinsi akan disimpan dalam “Kapsul Waktu” yang rencananya perjalanannya berakhir di Provinsi Papua, tepatnya di ujung timur Indonesia, Merauke.

Informasi lebih lanjut mengenai pelaksanaan perayaan ulang tahun kemerdekaan RI ke 70 dapat melalui www.setneg.go.id (Tim PKP/twitter : @GPRindonesia atau @bakohumas)

Di Ulang Tahun 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Gedung Pola yang Terabaikan


Jakarta - Tepat tanggal 17 Agustus 2015, bangsa ini akan merayakan hari kemerdekaan yang ke-70. Namun dibalik gegap-gempita perayaan hari kemerdekaan, masih banyak peninggalan sejarah yang mulai tersingkirkan.

Gedung Pola yang berada di Jalan Proklamasi No 1 merupakan satu dari peninggalan sejarah bangsa Indonesia. Meski masih berdiri kokoh, tak ada satu pun yang menyadari gedung itu sebagai tongkat sejarah bangsa Indonesia. Kondisi Gedung Pola pun saat ini sangat memprihatinkan. Tak banyak yang tahu, kalau di lantai tiga gedung itu terdapat museum peninggalan bapak proklamator bangsa. Kewibawaan dan sejarah bangsa ini tertutup sebagai gedung tua biasa.

Terbenamnya matahari menghidupkan nyawa PKL di sepanjang trotoar. Seakan tidak ada penghargaan tinggi terhadap berdirinya sejarah bangsa Indonesia. Kondisi gedung Pola yang terpuruk membuat Pemprov DKI Jakarta berkeinginan mengambil alih gedung tersebut.

"Status hukum bangunan ini merupakan aset negara, dalam hal ini di bawah pengawasan setneg dengan luas kurang lebih 9000 jadi di kawasan pemukiman ini ada dua pengelolaan yang satu milik negara satu miliki Pemda DKI, khususnya yang di Tugu Proklamasi," ujar Kabiro Setneg Bidang Pengelolaan Aset Nasional, Masrur usai rapat dengan perwakilan Pemprov DKI Jakarta, Selasa (11/8/2015).

Dia mengatakan ada rencana pengembangan dari Yayasan Bung Karno terkait adanya wacana pengambilalihan dalam pengelolaan gedung Pola oleh Pemprov DKI Jakarta.

"Ya itu nanti akan dilakukan rapat koordinasi dengan Setneg dan Pemda DKI serta Yayasan Bung Karno," ujarnya.

Dalam proses rapat antara Pemprov DKI Jakarta, Setneg dan Yayasan Bung Karno di lantai 3 Gedung Pola. Pemprov DKI Jakarta berencana mengambil alih pengelolaan gedung lantaran kondisi yang tidak terawat. Hal itu berdasarkan wacana Wagub DKI Jakarta Djarot Syaifulah dalam blusukan beberapa waktu lalu.

Sebagai penanggungjawab seharusnya Setneg bisa menunjukan taring. Namun sore itu mereka lebih cenderung pasrah, dengan alasan tidak ada biaya dalam APBN.

"Ya kita tidak bisa jelaskan, nanti setelah rapat dengan gubernur baru kita tahu," ucapnya saat disinggung wacana pelimpahan lantaran tak biaya dalam APBN.

Masrur mengatakan selama ini ada saja pihak-pihak yang mengaku sebagai pemilik aset. Sehingga nasib gedung Pola sebagai tonggak sejarah proklamasi tidak terkola dengan baik.

"Ya selama ini ada pihak-pihak yang masuk tanpa izin, hal itu juga menjadi salah satu poin kita dalam pengawasan gedung. Hari ini yayasan Bung Karno mengundang rapat intinya meminta dilakukan penataan," paparnya.

Sebagai perwakilan Yayasan Bung Karno bidang Penasehat Cagar Budaya Arsitektur Bambang Ehryudhawan menyesalkan kalau aset setingkat nasional dikelola setingkat Pemda. Seharusnya gedung pola sebagai tonggak sejarah berstatus sebagai aset nasional.

"Bagaimanapun juga tanah pusaka ini milik dari Aceh sampai Papua, nah itu yang sering orang lupa," paparnya

Bambang tidak bermaksud merendahkan SDM di Pemprov DKI Jakarta. Ia hanya memikirkan gedung pola bukan milik satu daerah.

"Karena tanah ini yang memiliki dari Sabang sampai Merauke yang punya, kalau pemda diberi wewenang mengelola harus berpikir nasional. Harus keluar dari keterbatasan regional." paparnya.

Bambang menuturkan idelnya gedung pola berstatus sebagai aset nasional. Namun begitu terlepas siapapun pengelola perlu ada Keppres khusus atas gedung ini.

"Kalau kemudian Pemda DKI memiliki wewenang dalam mendukung beberapa aspek itu tidak masalah, yang terpenting konsep dan perencanaan harus level nasional, kalaupun dikelola aset Pemda DKI Jakarta tidak mengebiri status nasional dari aset tersebut," tandasnya.
(edo/dhn)


Source : Detik News

Harapan Untuk Indonesia Maju

Assalamualaikum.

Hai apa kabar gimana perasaan nya di hari Kemerdekaan Indonesia ke 70 ini.? Tak terasa yaa, indonesia sekaran sudah berumur 70. yaa, berharap aja biar tidak kena jajah lagi,. Gak usah panjang - pangjang langsung ke topik Hari ini ini pasti kalian akan buka facebook buat posting foto di hari kemerdekaan ini. Tapi kagak punya pulsa gimana tuh. harus nyari wifi thu. Tenang Sekarang google sedang melakukan proyek,


Mega Proyek Google, WiFi Gratis Di Seluruh Dunia

Gimana pasti senang hati nya kan.
Mega proyek dari Google ini tengah dipersiapkan dan dimatangkan. Untuk percobaan pertama, sementara Google akan meluncurkan program Wifi gratis di kota New York, Amerika Serikat. Diharapkan program yang dijalankan di New York ini bisa lancar dan bisa memberikan akses internet di seluruh penjuru kota New York. Untuk menjalankan program ini, Google telah mempersiapkan perusahaan khusus yang akan menjalankan tugas khusus itu yaitu Sidewalk Labs.


Bukan Hanya Sekedar Akses Internet Gratis

Untuk Wifi gratis yang akan dibangun di New York, rencananya akan segera diluncurkan di seluruh kota pada musim gugur tahun ini. Untuk merealisasikan rencana itu, Google akan merubah 10 ribu bilik telepon umum yang sudah lama untuk kemudian dijadikan menara-menara Wifi. Bilik-bilik itulah nantinya yang akan menjadi ujung tombak dalam program Wifi gratis Google.

Selain berfungsi sebagai pemancar Wifi gratis, bilik tersebut nantinya juga dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas lain yang dibutuhkan oleh pengguna internet. Menara tersebut nantinya akan menyediakan untuk pengisian daya ponsel, panggilan telepon domestik, pusat informai layar sentuh mengenai “Big Apple” ataupun juga sebagai pusat informasi rute angkutan. Layanan untuk mencari informasi tentang kota dan tempat transit untuk sementara nantinya juga akan disediakan.


Layanan Yang Sangat Dibutuhkan Masyarakat ( Termasuk Saya)

Jika inovasi ini benar-benar bisa terealisasi dengan lancar, maka akan sangat membantu masyarakat dunia. Dengan lalu-lintas informasi yang begitu membutuhkan kecepatan dan keakuratan, maka layanan dari Google ini memiliki potensi untuk bisa menjadi solusi terbaik.

Dengan akses internet gratis di seluruh dunia, bisa menjadi pintu informasi dari segala penjuru dunia terutama bagi negara yang masih dalam perkembangan seperti di Indonesia ini. Apalagi saat ini, di Indonesia sebagai negara dengan perkembangan pengguna internet yang semakin tinggi, tentu akan sangat terbantu dengan inovasi dari Google ini.

Apalagi bagi Anda yang ingin memulai bisnis online, tentu akan terbantu dengan adanya program ini. Jika benar Wifi gratis di seluruh dunia terlaksana, maka bagi pemula yang ingin memulai menjalankan bisnis online dan masih kesulitan dalam mendapatkan akses internet akan bisa teratasi.

Ternyata Google juga Melihat Indonesia

Pada tanggal 17 Agustus kali ini, yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-70, Google membuat Google Doodle khusus untuk turut memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Memang sudah menjadi 'kebiasaan' Google untuk mengubah tampilannya sedemikian rupa yang mengikuti peringatan atau event tertentu di setiap negara yang mendukung layanan Google. Di tahun-tahun sebelumnya, Google pun pernah turut memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Pada edisi Hari Kemerdekaan Indonesia kali ini, tampak huruf G, G, L dan E berwarna merah dan putih. Sementara huruf O 'diwakili' oleh gambar Tugu Proklamasi lengkap dengan patung Soekarno-Hatta.

Tugu Proklamasi atau disebut juga Tugu Petir, merupakan tugu peringatan proklamasi kemerdekaan republik indonesia. Tugu ini terletak di tanah lapang kompleks Taman Proklamasi di Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat, yang pada saat itu dikenal dengan nama Jl. Pegangsaan Timur No. 56.
Di sana juga terdapat patung Soekarno-Hatta berukuran besar yang berdiri berdampingan. Ini mirip dengan dokumentasi foto pada saat naskah proklamasi dibacakan untuk pertama kalinya.

Di tengah-tengah patung Soekarno-Hatta, terdapat pula patung naskah proklamasi yang terbuat dari lempengan batu marmer hitam, yang susunan dan bentuk tulisannya mirip dengan naskah proklamasi aslinya.

Yaa, berharap aja proyek google mencakup sampai sini, Kalo google sampai disini operator indonesia pada gulung tikar.. ya Itu lah harapan saya pada Indonesia yang sudah berumur 70 tahun Gimana dengan kalian???